Ekspansi Perkebunan Sawit dan Ruang Hidup yang Berubah (Review Buku)

Judul Buku: Ekspansi Kelapa Sawit di Asia Tenggara: Kecenderungan dan implikasi bagi masyarakat lokal dan masyarakat adat

Editor: Marcus Colchester dan Sophie Chao

Kata Kunci: industri kelapa sawit, ekspansi, masyarakat adat

kebun sawit

Industri kelapa sawit dan minyak sawit adalah industri skala besar, dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar, korporasi internasional, dan sedang massif terjadi di negara-negara berkembang yang notabenenya mempunyai lahan dan iklim yang cocok untuk tumbuh kembangnya kelapa sawit. Tidak dapat dipungkiri investasi dan operasi industri minyak sawit memiliki kompleksitas yang tinggi, di negara-negara yang kelapa sawitnya tumbuh subur saat ini telah terjadi deforestasi, degradasi lingkungan, konflik lahan, konflik sosial, kerawanan kedaulatan pangan dan mata pencaharian, serta pelanggaran dan penyalahgunaan hak asai manusia yang lebih jauh (Tarigan dalam Colchester dan Chao, 2011).

Sebenarnya kesadaran bahwa di satu sisi industri ini telah menimbulkan dampak yang besar dan merugikan bagi masyarakat dan lingkungan telah ada, dibuktikan dengan ditangguhkannya seluruh pendanaan proyek minyak sawit di seluruh dunia oleh Bank Dunia antara tahun 2009 dan 2011 dan dari industri sendiri sehingga terbentuklah the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), yang bertujuan untuk menjauhkan  daerah perkebunan sawit dari hutan primer maupun kawasan konservasi tinggi dan melarang perampasan tanah, dan mendesakkan bahwa semua tanah hanya dapat diperoleh dengan menghormati hak-hak masyarakat lokal dan masyarakat adat, termasuk menghormati hak mereka untuk memberikan atau tidak memberikan persetujuan atas pembelian atau sewa tanah (Colhester dan Chao,2011).

Buku ini memberikan gambaran yang cukup rinci tentang perkembangan ekspansi kelapa sawit di Asia Tenggara, bagaimana kelapa sawit juga telah masuk di Thailand, Kamboja, Vietnam dan Filipina. Bagaimana ternyata praktek-praktek industri kelapa sawit ini hampir sama terjadi dan berulang seperti juga prakteknya di Indonesia, hanya sedikit yang memiliki cerita agak berbeda misal seperti yang terjadi di Kamboja, karena yang boleh dialihfungsikan menjadi lahan sawit hanyalah tanah negara dan Thailand karena pengawasan mereka cukup ketat dan Vietnam karena baru akan dimulai.

Dikaitkan dengan masyarakat adat, buku ini membahas bagaimana hak-hak masyarakat adat atas tanah, wilayah dan sumber daya alam yang secara tradisional mereka miliki, tempati atau gunakan, dan hak untuk memberikan atau tidak memberikan keputusan bebas tanpa paksaan, didahulukan dan diinformasikan (FPIC), yang dinyatakan lewat institusi perwakilan mereka sendiri atas tindakan-tindakan yang dapat mempengaruhi hak-hak mereka sering diabaikan sehingga pelanggaran atas ha-hak mereka tersebut selalu terjadi, dan hal tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di Papua Nugini (PNG) dan negara bagian Sarawak, Malaysia.

Cerita tentang konflik lahan, perlawanan masyarakat yang muncul, represi aparat, petani sawit yang terjerat hutang, perempuan yang tersingkir dari lahannya dan kemudian menjadi buruh perkebunan yang rentan bahaya pestisida dan pupuk kimia, prostitusi di perkebunan dan meningkatnya HIV/AIDS dan PMS di kalangan buruh perkebunan perempuan menjadi satu rangkaian yang tidak putus dan kasus berkepanjangan yang belum bisa diputus mata rantainya sampai saat ini.

Untuk itu di buku ini mulai dibicarakan bagaimana menjamin agar kelapa sawit berkembang secara menguntungkan. Standar-standar sukarela dari organisasi seperti RSPO perlu didukung oleh reformasi tenurial dan tata kelola nasional yang mewajibkan persyaratan-persyaratan yang bisa menjamin hak-hak masyarakat lokal benar-benar dihormati dan dilindungi, jika tidak semua itu hanya akan menguntungkan investor, pedagang, elit nasional dan korporasi-korporasi transnasional yang rakus itu.

Harusnya negara-negara lain terutama yang baru akan memulai bisnis ini (Vietnam) dapat berkaca dengan berbagai kasus di Indonesia baik tentang konflik lahannya maupun kerusakan lingkungan akibat pembukaan perkebunan sawit skala besar ini, karena jika tidak hal yang sama akan terjadi juga pada negara tersebut. Memutus ketergantungan terhadap minyak sawit mungkin adalah hal yang berat mengingat hampir 80% produk yang digunakan manusia untuk berbagai hal dalam hidupnya berbahan dasar dari minyak sawit namun yang harus diingat adalah orientasi industri ini di Indonesia adalah untuk memenuhi kebutuhan global bukan hanya kebutuhan lokal dan nasional, sehingga permintaannya yang sangat besar dari dunia internasional mendorong alih fungsi lahan terjadi secara cepat dengan iming-iming hasilnya secara ekonomi juga menguntungkan. Mindset inilah yang mungkin bisa diubah, bagaimana sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan terhadap minyak sawit, pemenuhan yang ada hanya untuk kebutuhan lokal dan nasional, serta pengendalian harga dan penegakan hukum oleh pemerintah sehingga menanam sawit menjadi bukanlah hal yang murah dan mudah serta secara ekonomis tidak menguntungkan, jadi masyarakatpun akan berpaling dari tanaman ini (Wong).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s