Mengenal Dunia Perbenihan (Pengantar untuk Pemula-Diri Sendiri (Red))

benih-tanaman-reuters1-300x200

“Benih adalah simbol untuk harapan dan optimisme”

Penggalan kalimat itu terbaca dan gampang diingat, dibuku Falsafah Benih karya Pak Sjamsoe’oed Sadjad yang menjadi koleksi buku baru di rumah. Ndilalah, aku yang baru aja masuk sebuah institusi penelitian yang berfokus pada perbenihan sontak gembira, buku ini adalah landasan filosofi tentang benih dari seorang akademisi, ilmuan yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk memahami si ‘benih’ ini, beliaulah begawan benih di Indonesia. Ketika akan berkecimpung dalam dunia perbenihan tentu ini harus menjadi buku pertama yang dibaca, agar bisa memahami apa, bagaimana, bentuk dan sifat si ‘benih’ ini. Oke, nanti akan saya baca buku ini.

Selanjutnya pagi inipun saya mendapat pinjaman buku “Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis 2000” karya Lars Schmidt, buku tebal  terbitan Ditjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS), Departemen Kehutanan. Baru membaca bagian pendahuluannya, dan banyak pengetahuan baru yang harus saya catat agar tidak lupa dan harus sering-sering dibaca karena seluk beluk si ‘benih’ inilah yang akan menjadi dunia saya saat ini. Walaupun nantinya akan lebih berkutat pada dimensi sosial ekonomi dan kebijakan tentang perbenihan di Indonesia, tapi ini adalah pengetahuan dasar yang harus saya ketahui. Berikut rangkuman bagian ‘pendahuluan’ dari buku ‘kitab’ ini dan beberapa bacaan pengantar lainnya.

Kehancuran hutan alam secara masif sudah terjadi dalam kurun waktu 30 tahun lebih, pemulihannya tidak serta merta bisa terjadi, sehingga perlu campur tangan yang masif pula dari negara dan pihak-pihak yang berkepentingan, karena kebutuhan akan kayu tidak pernah berhenti. Penanaman hutan kembali, rehabilitasi lahan dan perhutanan sosial (hutan kemasyarakatan) dengan komponen agroforestry, tanaman pelindung, tanaman keras di desa dll telah menjadi program pemerintah. Di pihak lain swastapun juga melakukan penanaman hutan akan tetapi orietasi mereka adalah bisnis, penanaman dipusatkan pada tanaman industri skala besar dan terfokus pada jenis yang mudah penanamannya.

Tentunya hasil hutan tanaman ini tidak memiliki keragaman tumbuhan dan margasatwa seperti hutan alam yang telah punah, tetapi penanaman secara besar-besaran masih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan akan kayu. Saat ini banyak negara telah menekankan pada penggunaan jenis lokal sehingga kebutuhan akan benih lokal menjadi hal terpenting yang harus dikembangkan.

Tumbuhan berkembang biak dengan dua cara: 1. Secara aseksual (vegetatif) dan 2. Secara seksual dengan pembentukan biji. Perkembangbiakan secara vegetatif, seperti melalui akar, penting untuk perkembangbiakan beberapa jenis tanaman daur pendek. Perbanyakan vegetatif juga populer untuk memperbanyak pohon yang bijinya sulit diperoleh. Tetapi perbanyakan melalui biji tetap menjadi metode dasar perbanyakan tanaman di daerah sedang (temperate) sebagaimana halnya didaerah tropis.

Biji mempunyai keunikan dalam perkembangbiakan alami dan perbanyakan, karena:

  1. Biji mempunyai susunan genetik yang unik, yang dihasilkan dari percampuran materi genetik (dengan persilangan diantara kromosom selama proses miosis dalam ovula dan tepung sari dan kombinasi gamet selama proses pembuahan). Hasilnya adalah variasi genetik dari keturunannya, yang selanjutnya meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan.
  2. Biji biasanya dihasilkan dalam jumlah besar dan mudah tersedia, setiap tahun atau pada interval waktu yang lebih panjang.
  3. Biji (biasanya) merupakan suatu bentuk tanaman yang kecil, mengandung hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman terkecuali biji rekalsitran, biasanya biji lebih resisten terhadap kerusakan dan tekanan lingkungan dari pada bahan vegetatif
  4. Kebanyakan biji dapat disimpan dalam waktu yang lama pada kondisi dingin dan kering.

Teknik penanganan benih adalah serangkaian kegiatan penanganan mulai dari tahap pemanenan buah sampai dengan benih diuji dan disimpan; menggunakan metoda yang tepat sehingga mutu benih tetap terjamin, baik genetik, fisik dan fisiologis. Setiap tahapan membutuhkan teknik /metoda yang sesuai dengan karakter benih (morfologis dan fisiologis) setiap jenis tanaman hutan. Secara morfologis benih berupa benih besar, benih kecil, benih bersayap atau benih bertempurung, sedangkan secara fisiologis karakteristik benih dibagi dalam 2 kategori yaitu benih ortodok dan benih rekalsitran. Benih ortodok merupakan benih yang toleran terhadap penurunan kadar air (kurang dari 10%) dan penyimpanan pada suhu rendah; relatif lebih tahan disimpan dalam jangka waktu lama. Benih rekalsitran merupakan benih basah cepat rusak yang tidak tahan terhadap pengeringan (kadar air awal benih 20-50%) dan tidak dapat disimpan pada temperatur rendah sehingga tidak mampu disimpan lama. Karakteristik benih tersebut akan berpengaruh dalam penentuan metode penanganan.

Keberhasilan program penanaman tanaman hutan sangat dipengaruhi oleh sistem pengadaan benih. benih yang baik akan menghasilkan benih berkualitas dan dalam jumlah yang cukup. Teknik penanganan benih tanaman hutan merupakan bagian yang mendasar dalam keberhasilan pembangunan hutan.

Benih berkualitas sendiri secara defenisi adalah benih yang secara fisik, fisiologis dan genetik memiliki kualitas baik. Kualitas fisik benih meliputi ukuran, berat dan penampakan visual benih, hal inilah yang akan menggambarkan kemampuan berkecambah dan vigor (sifat biji yang menentukan potensi untuk kemunculan yang cepat, seragam dan semai normal dibawah kondisi lapangan yang relatif lebar) benih. Sedangkan kualitas genetik merupakan cerminan sifat-sifat unggul yang diwariskan oleh tanaman induknya yang berhubungan dengan pertumbuhan dan penampakan tegakan di lapangan.

Dalam konteks regenerasi, hanya satu biji tumbuh (atau dua jika jenisnya dioecious/berumah dua) dan diperlukan untuk menggantikan pohonn induk. Setiap benih berpotensi menjadi menjadi pohon yang tumbuh dewasa, tetapi dialam, kebanyakan benih yang dihasilkan akan mati/tidak tumbuh, karena: gagal tersebar, dimakan binatang, serangan hama dan penyakit, kemunduran secara alami, kegagalan berkecambah dan lain-lain.

Pada penanganan benih tanaman hutan, yang diinginkan adalah terkumpulnya sebanyak mungkin benih yang mampu berkecambah dan tumbuh. Tujuan penanganan benih ini adalah untuk mendapatkan keberhasilan tumbuh yang tinggi. Penanganan benih mencakup serangkaian prosedur yang dimulai dengan seleksi sumber benih dengan kualitas terbaik, pengumpulan, pemrosesan, penyimpanan benih, perlakuan awal terhadap perkecambahan.

Masalah yang dapat timbul dalam penanganan benih sehingga terhambat dalam penggunaan yang lebih luas antara lain adanya pembatasan pada penggunaan jenis tertentu (karena ada yang benihnya berada pada cabang yang kecil, tinggi, sulit dijangkau dan sangat mudah hilang pada saat pengumpulan (Alnus nepalensis, Catha edulis dan Grevillea robusta), ada juga yang karena buah berbiji tunggal tersebar diseluruh tajuk (Agathis spp), sehingga dalam pengumpulan benihnya banyak membutuhkan tenaga kerja. Adalagi permasalahan viabilitas benih yang pendek dengan interval diantara waktu panen benih yang panjang (Azardirachta indica), permasalahan ekstraksi dan dormansi (penanganan lain yang sulit) (jenis-jenis Pterocarpus).

Penggunaan benih bermutu baik fisik, fisiologis dan genetik merupakan syarat mutlak untuk menciptakan hutan berproduktivitas tinggi, terutama hutan tanaman dan hutan rakyat (perhutanan sosial).

Beberapa permasalahan dalam pengadaan benih berkualitas di hutan rakyat:

  • Rendahnya kesadaran terhadap penggunaan benih berkualitas
  • Rendahnya akses petani pada benih berkualitas
  • Keterbatasan pengetahuan dan teknologi pengunduhan
  • Beredarnya benih asalan

Beberapa permasalahan pengembangan sumber benih di hutan rakyat:

  • Terbatasnya jumlah pohon induk
  • Rendahnya keragaman genetik
  • Pengelolaan yang tidak berkelanjutan
  • Rendahnya budaya perbenihan

Ini sekedar catatan corat coret dihari ini, agar tidak menguap hilang dari ingatan. Kedepannya selain masalah teknis perbenihan ini, saya akan mulai membaca masalah kebijakan perbenihan di Indonesia dan bagaimana hal ini mempengaruhi kegiatan perhutanan sosial di Indonesia, karena hutan rakyat adalah sebuah keharusan agar rakyat bisa sejahtera. Mandiri dan berdaulatnya masyarakat yang saat ini berkecimpung dalam perhutanan sosial bisa dimulai dengan berdaulatnya mereka terhadap benih berkualitas yang mereka miliki. (wong)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s