Perempuan Nelayan Bergelut dengan Kemiskinan

Kehidupan sebagai nelayan identik dengan kemiskinan, nampaknya gambaran tersebut semakin mendekati kebenaran, karena jelas terlihat bagaimana ketika kami mengunjungi pemukiman nelayan di Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara. Terletak di Kelurahan Muara Angke, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Mungkin tidak ada yang mengira bahwa didepan perahu-perahu nelayan yang tertambat terdapat barak-barak teriplek atau kayu-kayu sisa (limbah kayu), saling berhimpitan satu sama lainnya tidak lain adalah rumah tempat tinggal para nelayan tersebut bersama keluarganya (5-10 orang) selama puluhan tahun, padahal hanya dengan batas sebuah tembok tinggi di depannya terdapat lokasi perumahan mewah mentereng. Dibalik kibaran bendera-bendera partai dan calon-calon gubernur yang terpasang diatas perahu mereka terkuak cerita memilukan dalam kehidupan keseharian dan bagaimana mereka berusaha bertahan ditengah himpitan kemiskinan dan ketidakpastian dalam mencari nafkah.

Masyarakat nelayan Kali Adem Muara Angke adalah potret kemiskinan masyarakat dunia yang jumlahnya sangat besar di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dari kelompok masyarakat miskin tersebut yang paling rentan dan mendapatkan porsi terbesar dari imbas kemiskinan adalah perempuannya, karena perempuan dewasa yang notabenenya juga seorang istri dan ibu dari anak-anak harus juga ikut bekerja untuk menopang hidup keluarga, mereka yang memikirkan makan apa suami dan anak-anak mereka hari ini, bagaimana dengan pendidikan anak dan kebutuhan konsumsi dasar keluarga seperti air bersih, listrik dan bahan bakar minyak, namun kelompok perempuan pulalah yang paling sedikit menerima pelayanan kesehatan, air bersih, sanitasi, akses mendapatkan pendidikan dan peningkatan kapasitas, pekerjaan yang layak disektor formal dan berbagai hak sebagai warga negara lainnya.

Kemiskinan menurut perempuan nelayan ini ketika mereka tidak tahu harus diberi makan apa keluarga pada hari ini dan apakah mereka sekeluarga bisa makan atau tidak. Kondisi kemiskinan masyarakat nelayan Kali Adem semakin diperparah dengan tidak tercatatnya sebagian besar masyarakat disana sebagai penduduk Jakarta Utara, karena walaupun sudah puluhan tahun hidup dan bermukim di Muara Angke, Kartu Tanda Penduduk yang mereka miliki masih dikeluarkan oleh pemerintah desa tempat tinggal asal yakni Indramayu (Jawa Barat). Sehingga dengan tidak terdatanya mereka sebagai penduduk resmi Jakarta Utara ketidakpastian hidup selain dari segi pendapatan sebagai nelayan (kadang dapat ikan dan sering juga tidak) juga sebagai masyarakat yang memiliki hak untuk memiliki tempat tinggal, ancaman penggusuran menghantui mereka saat ini (paska penggusuran terakhir 2003) maupun akses terhadap pelayanan sosial, kesehatan dan pendidikan bagi keluarga.

Bagi perempuan Kali Adem, kondisi ini sangat sulit, kebutuhan ekonomi keluarga yang tidak tercukupi dan jebakan hutang dari tengkulak (boss) mengkondisikan perempuan nelayan menanggung beban lebih, membantu sang suami sebagai nelayan telah dilakukan dengan ikut membantu memperbaiki jaring yang rusak, memilah hasil tangkapan maupun menyiapkan perbekalan melaut, urusan domestik (mengurus anak, memasak, mencuci, air bersih, listrik dan bahan bakar minyak) memikirkan kesehatan keluarga (perempuan, suami dan anak), pendidikan anak-anak maupun perempuan sebagai istri serta berbagai hal lainnya, dan banyak dari perempuan ini yang ikut juga mencari penghasilan untuk menambah pendapatan keluarga di luar baik sebagai buruh cuci, pemulung, maupun pedagang keliling dan menjadi pedagang asongan di terminal dan pasar Muara Angke.

Beban ekonomi, sosial dan budaya yang perempuan nelayan alami membuat mereka tidak ada waktu lagi untuk melakukan aktivitas lain yang dapat menambah kapasitas perempuan nelayan di ruang publik. Padahal keinginan untuk keluar dari jerat kemiskinan dan memperbaiki kondisi kehidupan baik secara ekonomi, sosial, budaya dan politik adalah tujuan hidup agar anak-anak mereka tidak lagi mengalami kondisi yang sama dengan kedua orang tuanya.

Saat ini masyarakat nelayan Kali Adem, Muara Angke mengorganisir diri, membentuk kelompok nelayan ”Kemilam” yang memiliki struktur kepengurusan dan anggota cukup banyak, berdiri sekitar tahun 2004 namun sampai sekarang belum memiliki posisi tawar yang kuat terhadap pengambil kebijakan maupun berdampak terhadap perbaikan kehidupan ekonomi sehingga memang banyak yang harus dilakukan kedepannya termasuk juga kenapa perempuan tidak dilibatkan secara aktif dalam kelompok nelayan dan upaya apa yang bisa dilakukan untuk keluar dari kemiskinan ini.

One thought on “Perempuan Nelayan Bergelut dengan Kemiskinan

  1. Perempuan yang lemah merupakan awal dari benih kemiskinan suatu rumahtangga dan negara..maka bangkitlah untuk mengantisipasinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s