Konflik Terpelihara: Perjuangan Nelayan Rawai – Bengkalis

Tersebutlah sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan negeri jiran Malaysia, dibatasi dengan sebuah selat yang disebut Selat Malaka. Wilayah itu adalah Kabupaten Bengkalis yang berada di Propinsi Riau dengan luas daerah 11.481 Km2. Ibukota kabupatennya terletak disebuah pulau yang dinamakan Pulau Bengkalis yang terdiri dari dua kecamatan yaitu Bengkalis dan Bantan. Disebelah selatan Pulau Bengkalis tersebutlah pulau lain yang bernama Rangsang dengan tiga kecamatan Rangsang Barat, Tebing Tinggi dan Tebing Tinggi Barat.
Syahdan cerita masyarakat melayu pesisir pastilah bergantung hidup pada laut sebagai satu-satunya mata pencaharian sebagai penyambung hidup. Pekerjaan sebagai nelayan merupakan mata pencaharian mayoritas penduduk di dua pulau tersebut. Adalah Ikan Kurau spesies ikan yang berorientasi eksport dan memiliki nilai ekonomis tinggi, dengan harga berkisar 30.000 – 60.000/ kg-nya, menjadikan spesies ini primadona dan diburu oleh semua nelayan. Setelah Ikan Terubuk yang dulunya primadona di Bengkalis punah ranah akibat eksploitasi yang tidak memikirkan keberlanjutannya.
Demi menjaga ketersediaan Ikan Kurau, nelayan tradisional memiliki kearifan tersendiri dalam mengusahakannya. Dibekali dengan pancing rawai yang berupa seutas tali panjang (sekitar 150 m) dan disetiap 3 m-nya diberi tali dan mata kail yang berukuran 6 inch, tradisi ini diberlanjutkan dari waktu ke waktu dan generasi ke generasi. Nelayan tradisional yang tersebar di Kecamatan Bantan ini berhimpun diri menjadi Solidaritas Nelayan Kecamatan Bantan (SNKB) sejak tahun 1999. Dengan anggota sekitar 8.000 kepala keluarga (KK) dan yang memiliki pompong sekitar 2.000-an maka yang bergantung hidup dari pancing rawai mencapai 10.000-an jiwa.
Awal konflik bermula ditahun 1983, ketika itu ada pihak-pihak yang ingin mengeruk Ikan Kurau secara besar-besaran, dengan menggunakan kapal dan alat tangkap modern (jaring batu) mereka mulai beroperasi diwilayah yang sama dengan para nelayan tradisional. Inilah awal bibit konflik berkepanjangan yang tak selesai hingga saat ini. Masyarakat nelayan tradisional rawai tidak pernah mempermasalahkan siapapun yang masuk ke wilayah mereka untuk mencari ikan kurau asal dengan alat tangkap yang tetap memperhatikan keberlanjutan ikan kurau kedepan, namun sayang alat tangkap baru ini (jaring batu) yang dimodali pengusaha Singapura dengan memperalat para nelayan yang ada di Kecamatan Rangsang bukanlah alat tangkap yang ramah lingkungan. Dengan prinsip jaring yang diberi pemberat batu hingga mencapai dasar laut dan mampu memporak-porandakan seluruh ekosistem yang ada di dasar laut, maka tentu saja ini bukanlah alat tangkap yang ramah lingkungan. Jaring batu yang dapat mencapai panjang hingga 2500 m dan tinggi 10 m ini juga akan mampu menghabiskan seluruh Ikan Kurau dan ikan-ikan lainnya baik kecil maupun besar.
Wilayah tangkap yang sama menjadikan wilayah laut Bengkalis yang sempit ini (12 mill) rentan konflik. Kapal jaring batu mengejar dan menabrak pompong rawai, penyanderaan nelayan, perkelahian dilaut (jarak dekat maupun panah), kapal jaring batu yang ditangkap dan dibakar nelayan tradisional, menjadi deretan panjang permasalahan yang tak kunjung usai hingga 23 tahun lamanya. Tidak sedikit korban berjatuhan dari kedua belah pihak, apalagi materi dan non materi (psikologis). Hidup dalam ketakutan dan kebencian terhadap jaring batu (takut dikejar ketika melaut) selama 23 tahun telah menjadi kehidupan sehari-hari nelayan tradisional dan diwarisi hingga keanak-anak mereka.

Insiden 15 Juni 2006, Klimaks dari Sebuah Konflik Berkepanjangan

Pagi itu, nelayan melaut seperti biasanya dan lagi-lagi mereka bertemu dengan kapal jaring batu, nasib naas menimpa pompong Awaludin dan dua orang anggotanya, perkelahian jarak dekat tak terhindarkan, Awaludin terluka dibagian mata kiri akibat pukulan besi dan terkena stick (ketapel) yang berbuahkan timah pemberat ukuran besar (2 inchi), sementara dua orang lainnya luka dibagian wajah, tangan dan kaki, sehingga masih bisa melarikan pompong mereka ketepi pantai. Ketika masyarakat sedang memberikan pertolongan untuk Awaludin dan dua rekannya, lagi-lagi mereka mendapat kabar lewat handphone bahwa rekan mereka kembali ada yang dikepung 2 buah kapal jaring batu. Tindakan spontan penyelamatan agar rekan lainnya tidak mengalami cidera seperti rekan sebelumnya mendorong mereka untuk beramai-ramai pergi ke laut menghalau kapal jaring batu tersebut. Perkelahianpun dan insidenpun tak dapat dihindari, beberapa orang luka dan satu buah kapal jaring batu terbakar. Sore harinya kita juga mendapat kabar satu buah kapal nelayan berbendera Malaysia yang dibawa nelayan Desa Kembung Luar dibakar dan mereka disandera oleh Jang Karim (pengusaha jaring batu) di Rangsang Barat.
Namun tampaknya inilah klimaks dari konflik berkepanjangan yang tak kunjung usai. Insiden ini menjadi headline disemua media lokal yang ada di Riau hingga berhari-hari, dengan ragam versi ceritanya bahkan cenderung melebih-lebihkan tanpa memberikan bukti dan argumentasi yang berimbang dari kedua belah pihak (korban mati putus kepala, isi perut keluar dll).
Saya yang turun langsung kelapangan esok harinya, mendapati kondisi masyarakat dalam keadaan tegang, trauma dan ketakutan yang luar biasa. Dari Bengkalis saya dan bersama seorang rekan dari LBH Pekanbaru segera menuju Desa Teluk Pambang (sekretariat SNKB) dan menjadi sorotan dalam konflik nelayan kali ini. Berada di ujung Pulau Bengkalis berjarak sekitar 80 Km dan ditempuh dengan dua jam naik sepeda motor. Sesampainya disana kami segera mengumpulkan seluruh pengurus SNKB masing-masing wilayah yang meliputi 8 desa lainnya untuk mengumpulkan informasi yang benar dari keseluruhan rangkaian insiden yang terjadi pada tanggal 15 Juni itu, karena terlalu banyak versi cerita yang berkembang di dalamnya.
Informasi yang terkumpul dijadikan bahan untuk segera mengeluarkan release dan sikap resmi organisasi SNKB terkait dengan insiden tersebut. Pada H+1 pasca insiden masyarakat langsung membentengi diri dan kampung mereka (berjaga-jaga) dari kemungkinan adanya serangan balik dari nelayan Rangsang. Ketika H+2 setelah beredar rumor akan adanya penyerangan balik terhadap nelayan tradisional rawai di Bantan oleh nelayan dari Rangsang, penjagaan semakin diperketat, apalagi pada malam hari, seluruh pemuda dan laki-laki dewasa memegang senjata dan berjaga-jaga di tepi pantai karena dapat dilihat dengan mata sendiri ada tiga buah kapal jaring batu yang berisikan ratusan orang bersenjata lengkap siap tempur mondar-mandir di perairan 1 mill Pambang. Suasana sangat mencekam, aparat kepolisian yang dihubungi tidak bisa memberikan jaminan keamanan dan jawaban yang memuaskan.
Keadaan semakin kacau, pada H+3, masyarakat yang terlibat langsung insiden tanggal 15 tersebut banyak yang lari ke semak belukar dan hutan diwilayah desanya masing-masing karena ada kabar orang upahan pengusaha jaring batu juga berkeliaran di desa untuk mencari informasi dan pelaku, juga ketakutan masyarakat kepada aparat kepolisian baik intel maupun anggota Brimob yang akan melakukan pengambilan ditempat. Hal ini terjadi karena memang ada anggota kepolisian yang masuk ke desa-desa dengan bersenjata lengkap dan menggeledah rumah-rumah pengurus SNKB tanpa memberikan surat-surat resminya baik pada siang hari maupun malam hari. Keadaan ini membuat masyarakat trauma, walaupun kita (Walhi dan LBH) sudah berkeliling di lima desa yang dianggap paling rawan dan memberikan penguatan terhadap masyarakat, namun suasana mencekam dan ketakutan masih saja meliputi desa-desa nelayan tradisional rawai. Ketika kepolisian tidak lagi bisa memberikan rasa aman bahkan malah semakin menakut-nakuti masyarakat, maka tidak ada pilihan lain selain memperkuat pertahanan di desanya masing-masing.
Sistem keamanan di tiga desa ini (Teluk Pambang, Teluk Lancar dan Selat Baru) dibuat berlapis, palang (ampang-ampang) dipasang di tiap titik masuk di desa dan dijaga selama 24 jam (siang perempuan, malam laki-laki), siapapun yang masuk desa jika tidak dikenali harus memperlihatkan identitas jika tidak diusir. Namun masyarakat Desa Selat Baru kecolongan, ketika sebagian anggotanya sedang mengadakan pertemuan di Desa Teluk Pambang, suasana sedang sepi dan lengah, datang polisi melakukan penangkapan. Ujangpun tertangkap dan dibawa polisi (tanpa prosedur), walaupun ibu-ibu dan anak-anak sudah berusaha menghalangi petugas membawa Ujang, namun ketika tembakan dilepas (7 kali) dan gas air mata dilancarkan maka perlawanan yang tak seberapa itupun kandaslah. Kami yang sedang mengadakan pertemuan pada saat itu langsung bubar dan segera menuju Polres Bengkalis, namun ternyata Polres Bengkalis langsung membawa Ujang ke Polda Riau di Pekanbaru untuk mengantisipasi amukan warga.
Sampai saat ini Ujang masih dalam tahanan Polda Riau, usaha penangguhan yang dilakukan oleh tim pengacara tidak membuahkan hasil, selanjutnya adalah mempra peradilkan polisi karena banyak kejanggalan dalam penangkapan Ujang. Selain itu usaha desakan-desakan kepada Pemerintah Kabupaten dan Propinsi untuk menyelesaikan konflik inipun terus dilakukan melalui aksi demonstrasi, loby politik dll, namun walaupun telah disepakati beberapa poin sementara untuk penyelesaian konflik ini, namun kenyataannya dilapangan tidaklah demikian.
Hampir 20 hari sudah nelayan tradisional rawai tidak bisa mencari ikan di laut (merawai), karena tidak adanya jaminan keamanan melaut dari pihak kepolisian, sementara pengusaha jaring batu semakin merajalela dengan melakukan penangkapan ikan kurau 24 jam dan semakin dekat dengan pantai. Adanya semacam pengalihan isu ini menjadi semata-mata kriminal harus diantisipasi dengan tetap mendesakkan penyelesaian yang menjadi akar masalah konflik. Jika keadaannya tetap seperti ini, kepedulian pihak terkait: Pemerintah baik tingkat lokal, provinsi dan pusat, Kepolisian dari sektor hingga pusat, DPRD hingga DPR, anggota DPD dll terhadap masalah ini belum juga menunjukkan kemajuan berarti maka harapan untuk dapat terus menyambung hidup rasanya semakin menjauh, hutang dan kemiskinan membayang-bayangi masyarakat nelayan tradisional rawai, hingga saat ini. “Eksodus ke Malaysia dan meminta suaka politik bagi 10.000-an jiwa” adalah pilihan terakhir kita, ujar Abu Samah, Ketua SNKB.

2 thoughts on “Konflik Terpelihara: Perjuangan Nelayan Rawai – Bengkalis

  1. Senang sekali bs membaca infomasi ttg konflik nelayan di Bengkalis… sangat m’bantu sy dlm penyelesaian disertasi..tengkiyu so much ya….Btw,…ad lg kah informasi t’akhir ttg konflik di Bks? pls inform me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s